Saturday, 22 December 2007

Sebuah Langkah Awal

Malam begitu dingin, namun suasana malam itu cukup riuh, genjregan pengamen jalanan, dan terikan Bapak tukang parkir ber baur dengan raungan kendaraan bermotor dari mulai mubil kelas atas sampai sepeda motor butut ikut mengantri di jalan yang memang hanya cukup untuk dua lajur. Malam itu motor aku parkir di depan sebuah warung makan yang cukup ramai, tapi masih ada tempat buat saya dan teman saya duduk untuk mengisi perut yang memang sudah saatnya untuk di isi dengan makanan.
Diskusi kita lumayan asyik malam itu, sebuah project plan untuk perjalanan tahun depan mau seperti apa. Berangkat keinginan untuk mengembangkan potensi dan peluang yang ada di depan mata, kami mulai membahas satu - persatu bagai mana chance di tahun depan seperti apa. Mulai dari product kecil-kecilan sampai dengan yang mendatangkan pemasukan lumayan. Diskusi ini hanya sebuah lanjutan dari sebuah kesepakatan bersama sekelompok kecil manusia yang punya keinginan untuk maju dan berkembang bersama. malam itu ada sedikit kebimbangan, mana yang akan kita pilih sebagai langkah awal perjalanan ini, saat dalam situasi ini saya teringat akan cerita seseorang yang mampu memacu adrenalin saya untuk merangsang pikiran.
Dia seorang kewarganegaraan Jepang, dia bercerita bahwa selama ini dia selalu berkeliling dunia terutama Indonesia, untuk mencari para pengrajin kecil yang membuat barang-barang unik. Dia crita, saat Indonesia dia berkeliling ke Solo, lalu memesan gitar dalam skala yang besar, dengan memberikan contoh model yang cukup cantik ke pengrajin tersebut. Setelah jadi dia minta untuk di beri label " Made In Japan ", lalu dia bawa ke Jakarta. Di Jakarta dia bawa ke Mall Taman Anggrek lalu di jual dengan harga hampir 10 kali lipat.
Dilain kesempatan, dia memesan Batik, kemudian dia bawa batik itu ke Thailand. Disana Batik tersebut di pajang di sebuah kios, Batik-batik tersebut di bagi dua, yang pertama di kemas sedemikian rupa dengan plastic, dan di beri tulisan " made in Japan " kemudian yang satu lagi hanya dia sampir-kan saja tanpa dikemas dengan apik, dan di beri tulisan " made in Indonesia ", hasil akhirnya, barang - barang yang di kemas sedemikian rupa itu ternyata habis terjual, mengalahkan product yang bertuliskan " made in Indonesia ". Padahal orang-orang yang membeli tau, bahwa batik itu yang berkualitas memang dari Indonesia, namun ternyata konsumen pasar itu cenderung memilih barang yang memiliki kemasan yang cantik dan menarik, sehingga tanpa harus di jelaskan secara psikologis seseorang pasti akan memilih barang yang memiliki kemasan yang cantik.
Kejadian ini menggugah inspirasi saya, bahwa apapun yang nanti akan kita tawarkan, kita cukup mengemas dengan cantik barang tawaran kita itu, maka dengan sendirinya, konsumen akan melirik untuk melihat, meneliti, lalu akan membeli product itu. Dengan berbekal semangat dari sekelompok kecil yang kita bentuk ini, yang sudah menyatukan visi-misi kedepan seperti apa, semoga bisa menjadi secercah harapan untuk memperpanjang mimpi yang sudah terpatri di kepala masing-masing, saya dan teman-teman sepakat untuk memulai sekarang, untuk selanjutnya akan semakin berkembang.

No comments: